Minggu, 22 April 2018

Saladin Dan Perang Salib


SALAHUDDIN DAN PERANG SALIB

Ilustrasi Perang Salib

Perang salib bukanlah satu peperangan yang singkat dan khusus, sebagaimana lazimnya suatu peperangan. Peperangan ini merupakan satu rangkaian dari pertikaian antara Barat dan Timur ( Nasrani dan Islam), pertikaian kaum Muslimin dan kaum Nasrani telah dimulai semenjak kekuatan Islam mulai menguasai seluruh Jazirah Arbaia. Titik awalnya adalah saat jatuhnya Qadisyiyah pada tahun 16 H.

Faktor keagamaan memainkan peranan penting sebagai alasan peletusan kepada Perang Salib, kronologi sejarah menyatakan bahwa kehadiran Islam di tanah suci Kristen telah bermula sejak penaklukan Palestina oleh tentara Islam Arab pada abad ke-7. Bahkan, orang Eropa di Barat itu sendiri tidak begitu peduli dengan kehilangan dengan kehilangan Jerussalem disebabkan oleh kesibukan mereka dalam menghadapi serangan orang Islam.

Salahuddin Al-Ayub

Nama asli beliau ialah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi. Beliau biasa dikenal dengan julukannya yaitu, Salahuddin Ayyubi atau Saladin atau Salah ad-Din, Beliau terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib. Ketika beliau lahir di muka bumi ditandai dengan kabar yang tidak baik bagi ayahnya, dikarenakan ayah beliau kehilangan kekuasaan dan jabatan atas benteng, dan juga kehilangan Negeri, karena mereka sekeluarga diusir dari wilayah itu.

Dari usia belasan tahun Shalahuddin selalu bersama ayahnya di medan pertempuran melawan tentara Salib atau menumpas para pemberontakan terhadap pemimpinnya Sultan Nuruddin Mahmud. Ketika Nuruddin berhasil merebut kota Damaskus tahun 549 H/1154 M maka keduanya ayah dan anak ini telah menunjukkan loyalitas yang tinggi kepada kepemimpinannya. Dalam tiga pertempuran di Mesir bersama-sama pamannya, Asaduddin Syirkuh melawan Tentara Salib, beliau dan pamannya berhasil mengusir mereka dari Mesir pada tahun 559-564 H. 1164-1168 M.

Sultan Shalahuddin ingin merebut Kota Yerussalem yang mana beliau mengajak Tentara Salib untuk berdamai. Pada lahirnya, Kaum Salib mengira bahwa Shalahuddin telah menyerah kalah, lalu mereka menerima perdamaian ini dengan sombong. Sultan sudah menyangka bahwa orang-orang Kristen itu akan mengkhianati perjanjian itu, maka hal ini akan menjadi alasan bagi beliau untuk melancarkan serangan. Beliau telah membuat persiapan secukupnya, ternyata dugaan Sultan Shalahuddin tidak meleset, baru sebentar mendatangani perjanjian tersebut, Kaum Salib telah mangadakan pelanggaran. Penguasa Nasrani renanud atau Count Rainald de Chatillon penguasa Benteng Akkra menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di dekat istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya.

Maka, Sultan Shalahuddin segera bergerak melancarkan serangan kepada Pasukan Salib yang dipimpin oleh Count Rainald de Chatillon dan Baldwin IV Raja Yerussalem, tapi kali ini masih gagal dan beliau sendiri hampir tertawan. Perang ini terkenal dengan nama Battle of Montgisard yang terjadi pada tahun 1177M. Beliau mengadakan gencatan senjata dan kembali ke markasnya serta menyusun kekuatan yang lebih besar.

Suatu kejadian yang mengejutkan Sultan adalah ketika Count Rainald de Chatillon yang bergerak dengan pasukannya untuk menyerang kota Suci Makkah dan Madinah. Akan tetapi pasukan ini hancur binasa digempur mujahid Islam di Laut Merah dan sisa pasukan Count Rainald kembali ke Yerussalem. Dalam perjalannya, mereka berjumpa dengan satu rombongan kafillah kaum Muslimin yang didalamnya terdapat seorag saudara perempuan Sultan Shalahuddin. Tanpa berpikir panjang, Count Rainald dan prajuritnya menyerang kfilah tersebut dan menahan mereka, termasuk saudara perempuan Shalahuddin.

Sultan sangat marah terhadap pengkhianatan genjatan senjata itu dan mengirim utusan ke Yerussalem agar semua tawanan di bebaskan. Tapi mereka ridak memberikan jawaban, Sultan keluar membawa pasukannya untuk menghukum kaum salib yang sering mengkhianati janji itu dengan mengepung kota Tiberias. Maka terjadilah pertempuran yang sangat besar di gunung Hittin sehingga dikenal dengan Perang Hittin. Pasukan Salib dipimpin oleh Rainald de Chatillon dan Raja Guy de Lusignan, Raja Yerussalem sesudah kematian Baldwin IV(1185). Seluruh Pasukan Salib hancur binasa dan hanya tinggal tawanan termasuk Count Rainald de Chatillon sendiri, Pasukan Salib yang tertawan diperlakukan dengan sangat baik oleh Shalahuddin, dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh Tentara Salib satu abad sebelumnya.

Setelah pertempuran ini, dua pemimpin Tentara Salib, Count Rainald de Chatillon dan Guy de Lusignan dibawa kehadapan Sultan Shalahuddin, Beliau menghukum mati Rainald de Chatillon yang telah begitu keji karena kekejamannya yang hebat yang ia lakukan kepada orang-orang Islam dan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian Guy de Lusignan dilepaskan untuk pergi, karena ia tidak melakukan kekejaman yang serupa. Kekalahan tentara Salib ini berdampak besar terhadap kekuatan Tentara Islam.


Selasa, 17 April 2018

Pertempuran Thermopylae



    Pertempuran Thermopylae adalah pertempuran antara persekutuan negara kota Yunani, yang dipimpin oleh raja Leonidas, melawan Kekaisaran Persia pimpinan Xerxes I selama tiga hari, pada invasi kedua Persia ke Yunani. Pertempuran ini terjadi berbarengan dengan pertempuran laut di Artemision, pada Agustus atau September 480 SM, di celah pesisir sempit Thermopylae ('Gerbang Panas'). Invasi Persia ini adalah tanggapan yang tertunda atas kekalahan pada invasi pertama Persia ke Yunani, yang berujung pada kemenangan Athena dalam Pertempuran Marathon pada 490 SM. Xerxes mengumpulkan pasukan darat dan angkatan laut yang besar untuk menaklukan seluruh Yunani. Jenderal Athena, Themistokles mengusulkan agar pasukan Yunani menghalangi gerak maju pasukan Persia di celah Thermopylae, dan pada saat yang sama menghalangi armada persia di Selat Artemision.

    Pasukan Yunani sebanyak 7.000 orang berarak ke utara untuk menghalangi celah pada musim panas 480 SM. Pasukan Peria, yang oleh sumber-sumber kuno disebut berjumlah lebih dari jutaan namun kini diduga berjumlah jauh lebih sedikit (beragam angka diusulkan oleh para sejarawan antara 100,000 dan 150,000), tiba di celah pada akhir Agustus atau awal September. Pasukan Yunani yang kalah jumlah menahan pasukan Persia selama tujuh hari (termasuk tiga hari pertempuran) sebelum barisan belakangnyanya dihancurleburkan dalam salah satu perjuangan terakhir paling terkenal dalam sejarah. Selama dua hari penuh pertempuran, pasukan kecil yang dipimpin Raja Leonidas I dari Sparta menghalangi satu-satunya jalan yang dapat dilalui oleh pasukan besar Persia. Setelah hari kedua pertempuan, seorang penduduk lokal bernama Ephialtes mengkhianati pasukan Yunani dengan memberitahu jalan kecil ke balik garis pertahanan Yunani. Leonidas, menyadari bahwa pasukannya akan terkepung, menyuruh sebagian besar tentaranya pergi sedangkan dirinya tetap bertahan bersama 300 tentara Sparta, 700 tentara Thespiai, 400 tentara Thebes dan mungkin beberapa ratus tentara lainnya. Pada akhirnya sebagian besar tentara Yunani terbunuh.

    Setelah pertempuran ini, armada Yunani, di bawah komando politisi Athena Themistokles, di Artemision memperoleh kabar kekalahan di Thermopylae. Karena strategi Yunani membutuhkan pertahanan di Thermopylae dan Artemision, sedangkan Thermopylae tak dapat dipertahankan, maka armada Yunai pun memutuskan untuk mundur ke Salamis. Pasukan Persia menyerbu Boiotia lalu menaklukan Athena yang penduduknya sebelumnya telah dievakuasi. Armada Yunani, menginginkan kemenangan atas armada Persia, memutuskan untuk menyerang dan akhirnya berhasil mengalahkan armada Persia dalam Pertempuran Salamis pada akhir 480 SM. Takut terjebak di Eropa, Xerxes pun mundur bersama sebagian besar pasukannya ke Asia (banyak tentaranya yang kemudian tewas akibat kelaparan dan penyakit), meinggalkan Mardonios untuk tetap meneruskan penaklukan atas Yunani. Setahun kemudian, pasukan Yunani secara telak mengalahkan pasukan Persia pada Pertempuran Plataia, dengan demikian mengakhiri invasi Persia.
Latar Belakang

    Dua negara kota Yunani, Athena dan Eretria menyerukan Pemberontakan Ionia, yag berakhir dengan kegagalan, melawan Kekaisaran Persia pimpinan Darius I pada 499–494 SM. Kekaisaran Persia masih muda, dan rentan terhadap pemberontakan oleh rakyatnya.  Apalagi Darius adalah seorang perebut kekuasaan, dan ia sendiri memang telah menghabiskan banyak waktu berusaha memadamkan berbagai pemberontakan melawan kekuasaannya.

    Pemberontakan Ionia mengancam kesatuan kekasiarannya, sehingga Darius pun bersumpah menghukum mereka yang terlibat di dalamnya, terutama Athena, "karena ia yakin bahwa [bangsa Ionia] pasti akan diuhukum atas pemberontakan mereka.". Darius juga melihat kesempatan untuk memperluas kekaisarannya ke ke dunia Yunani kuno yang terpecah-pecah.  Ekspedisi awal di bawah Mardonios pada 492 SM untuk mengamankan wilayah yang dekat dengan Yunani berhasil membuat Persia menaklukan kembali Thrakia, dan memaksa Makedonia menjadi kerajaan klien Persia.

    Darius mengirim utusan ke semua negara kota Yunani pada 491 SM, meminta hadiah 'tanah dan air' sebagai perlambang ketundukan mereka kepadanya. Setelah menyaksikan kehebatan militer Persia setahun sebelumnya, sebagian besar kota Yunani tunduk padanya. Akan tetapi, di Athena, utusan Darius disidang dan dihukum mati dengan cara dilempar ke lubang; di Sparta, utusan Persia langsung saja dilempar ke dalam sumur. Ini artinya Sparta juga secara efektif berperang dengan Persia.

    Darius pun mengirimkan pasukan amfibi di bawah Datis dan Artaphernes pada 490 SM, yang menyerang Naxos, sebelum kemudian memperoleh pernyataan ketundukan dari pulau-pulau Kykdales lainnya. Pasukan ini lalu bergerak ke Eretria, yang dikepung dan dihancurkan. Akhirnya, mereka bergerak untuk menyerang Athena, berlabuh di teluk Marathon, di mana mereka dihadapi oleh pasukan Athena yang kalah jumlah. Pada Pertempuran Marathon yang terjadi kemudian, Athena memperoleh kemenangan yang luar biasa, yang berujung pada penarikan mundur pasukan Persia ke Asia.
               
               



Sabtu, 14 April 2018

Jika Aku Menjadi

Namaku Atshushi Mitzusaka (Auli Mirza Fatahillah),aku merupakan tentara Jepang yang dipercayai oleh komandanku untuk menguasai Indonesia. Aku pun mengambil tugas tersebut dan aku juga telah mengetahui bahwasanya tugasku menguasai indonesia tidak lain adalah untuk menguasai wilayah, sumber daya alam serta sumber daya manusianya.

Karena aku tahu bahwasanya Indonesia terkenal dengan rempah-rempah, serta rakyatnya yang mudah sekali ditipu daya. Aku berpikir,sesampainya disana aku harus bersikap baik dan mengeluarkan kata-kata mutiara untuk mencitrakan diriku dan tentunya Negara Jepang.

Pada tanggal 11 januari 1942, aku berangkat dari base camp menuju Timur Pulau Kalimantan, tepatnya di Pulau Tarakan. Bersama dengan sekutu ku, aku berangkat menggunakan pesawat kargo. Sesampainya disana, sesuai yang sudah kupikirkan tadi,aku langsung bersikap baik kepada rakyat Indonesia.

Aku mengatakan bahwa Jepang datang ke Indonesia sebagai pemimpin asia, pelindung asia dan cahaya asia atau yang kita kenal dengan slogan dari Gerakan Tiga A. Orang-orang pun menyambutku dengan hangat dan senyum lebar. Mereka semua berharap bahwa Jepang dapat menyingkirkan Belanda dari Indonesia.

Setelah beberapa hari di Pulau Tarakan, aku pun menunggu Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada Jepang, barulah aku  memulai ekspedisi dan juga misiku. Dan benar saja pada tanggal 8 Maret 1942, Belanda telah mundur keluar Indonesia dan menyerahkan kekuasaannya kepada jendralku yaitu Hitoshi Immamura. Sekaligus memberikan lampu hijau untuk memulai misi ku ini.

Aku pun diberi perintah dari jendralku dan langsung sigap mengambil langkahku untuk menguasai Indonesia, diawali dari Pulau yang pertama kali ku injak yakni Pulau Tarakan, dilanjuti dengan Balikpapan,Palembang dan Plaju. Setelah 4 daerah tersebut, aku melanjutkan penjajahan ku ini ke Pulau Jawa. Tepatnya di Teluk Banten, daerah pantura, dan kota Pasuruan.

Walaupun aku melakukan perebutan wilayah, aku tetap menjalankan prinsipku yakni pencitraan. Selama aku diam-diam menjajah Indonesia, aku selalu melakukan pencitraan seperti mengijinkan mengibarkan bendera Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari dan memutar lagu Indonesia Raya. Sehingga dengan pencitraan-pencitraan tersebut aku dipandang baik oleh rakyat Indonesia, walaupun mereka tidak tahu bahwa aku sedang menjajah negara ini.

Dalam melakukan misiku ini,aku memulai penjajahan dengan hal-hal minim seperti menguasai wilayah terlebih dahulu, lalu aku mendirikan kantor-kantor Jepang dan sampai puncaknya yaitu penjajahan yang sesungguhnya. Dimulai dari kerja paksa, berperang melawan rakyat Indonesia, hingga penyiksaan-penyiksaan yang sangat pedih. Lama-kelamaan misiku ini pun berhasil. Sekutu ku pun sudah memiliki gudang pangan dan juga persenjataan sendiri,sehingga untuk menguasai suatu wilayah menjadi sangat-sangat mudah.

Hingga akhirnya tanah Indonesia takluk kepadaku dengan waktu yang sangat singkat. Citraku di hadapan rakyat pun berubah, dari yang awalnya citraku sangat-sangat baik di mata rakyat Indonesia menjadi 180 derajat berubah menjadi sangat-sangat buruk. Namun,aku tidak peduli tentang itu semua. Yang terpenting adalah misiku menjajah Indonesia telah tuntas. Aku berhasil mengambil semua kekayaan negaranya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Tamat.