SALAHUDDIN
DAN PERANG SALIB
![]() |
| Ilustrasi Perang Salib |
Perang
salib bukanlah satu peperangan yang singkat dan khusus, sebagaimana lazimnya
suatu peperangan. Peperangan ini merupakan satu rangkaian dari pertikaian
antara Barat dan Timur ( Nasrani dan Islam), pertikaian kaum Muslimin dan kaum
Nasrani telah dimulai semenjak kekuatan Islam mulai menguasai seluruh Jazirah
Arbaia. Titik awalnya adalah saat jatuhnya Qadisyiyah pada tahun 16 H.
Faktor
keagamaan memainkan peranan penting sebagai alasan peletusan kepada Perang
Salib, kronologi sejarah menyatakan bahwa kehadiran Islam di tanah suci Kristen
telah bermula sejak penaklukan Palestina oleh tentara Islam Arab pada abad
ke-7. Bahkan, orang Eropa di Barat itu sendiri tidak begitu peduli dengan
kehilangan dengan kehilangan Jerussalem disebabkan oleh kesibukan mereka dalam
menghadapi serangan orang Islam.
![]() |
| Salahuddin Al-Ayub |
Nama asli
beliau ialah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi. Beliau biasa dikenal dengan
julukannya yaitu, Salahuddin Ayyubi atau Saladin atau Salah ad-Din, Beliau
terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan
sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara
salib. Ketika beliau lahir di muka bumi ditandai dengan kabar yang tidak baik
bagi ayahnya, dikarenakan ayah beliau kehilangan kekuasaan dan jabatan atas benteng,
dan juga kehilangan Negeri, karena mereka sekeluarga diusir dari wilayah itu.
Dari usia
belasan tahun Shalahuddin selalu bersama ayahnya di medan pertempuran melawan
tentara Salib atau menumpas para pemberontakan terhadap pemimpinnya Sultan
Nuruddin Mahmud. Ketika Nuruddin berhasil merebut kota Damaskus tahun 549
H/1154 M maka keduanya ayah dan anak ini telah menunjukkan loyalitas yang
tinggi kepada kepemimpinannya. Dalam tiga pertempuran di Mesir bersama-sama
pamannya, Asaduddin Syirkuh melawan Tentara Salib, beliau dan pamannya berhasil
mengusir mereka dari Mesir pada tahun 559-564 H. 1164-1168 M.
Sultan
Shalahuddin ingin merebut Kota Yerussalem yang mana beliau mengajak Tentara
Salib untuk berdamai. Pada lahirnya, Kaum Salib mengira bahwa Shalahuddin telah
menyerah kalah, lalu mereka menerima perdamaian ini dengan sombong. Sultan
sudah menyangka bahwa orang-orang Kristen itu akan mengkhianati perjanjian itu,
maka hal ini akan menjadi alasan bagi beliau untuk melancarkan serangan. Beliau
telah membuat persiapan secukupnya, ternyata dugaan Sultan Shalahuddin tidak
meleset, baru sebentar mendatangani perjanjian tersebut, Kaum Salib telah
mangadakan pelanggaran. Penguasa Nasrani renanud atau Count Rainald de
Chatillon penguasa Benteng Akkra menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di
dekat istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya.
Maka,
Sultan Shalahuddin segera bergerak melancarkan serangan kepada Pasukan Salib
yang dipimpin oleh Count Rainald de Chatillon dan Baldwin IV Raja Yerussalem,
tapi kali ini masih gagal dan beliau sendiri hampir tertawan. Perang ini
terkenal dengan nama Battle of Montgisard yang terjadi pada tahun 1177M. Beliau
mengadakan gencatan senjata dan kembali ke markasnya serta menyusun kekuatan
yang lebih besar.
Suatu
kejadian yang mengejutkan Sultan adalah ketika Count Rainald de Chatillon yang
bergerak dengan pasukannya untuk menyerang kota Suci Makkah dan Madinah. Akan
tetapi pasukan ini hancur binasa digempur mujahid Islam di Laut Merah dan sisa
pasukan Count Rainald kembali ke Yerussalem. Dalam perjalannya, mereka berjumpa
dengan satu rombongan kafillah kaum Muslimin yang didalamnya terdapat seorag
saudara perempuan Sultan Shalahuddin. Tanpa berpikir panjang, Count Rainald dan
prajuritnya menyerang kfilah tersebut dan menahan mereka, termasuk saudara
perempuan Shalahuddin.
Sultan
sangat marah terhadap pengkhianatan genjatan senjata itu dan mengirim utusan ke
Yerussalem agar semua tawanan di bebaskan. Tapi mereka ridak memberikan
jawaban, Sultan keluar membawa pasukannya untuk menghukum kaum salib yang
sering mengkhianati janji itu dengan mengepung kota Tiberias. Maka terjadilah
pertempuran yang sangat besar di gunung Hittin sehingga dikenal dengan Perang
Hittin. Pasukan Salib dipimpin oleh Rainald de Chatillon dan Raja Guy de
Lusignan, Raja Yerussalem sesudah kematian Baldwin IV(1185). Seluruh Pasukan
Salib hancur binasa dan hanya tinggal tawanan termasuk Count Rainald de
Chatillon sendiri, Pasukan Salib yang tertawan diperlakukan dengan sangat baik
oleh Shalahuddin, dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami
kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh Tentara Salib satu abad sebelumnya.
Setelah
pertempuran ini, dua pemimpin Tentara Salib, Count Rainald de Chatillon dan Guy
de Lusignan dibawa kehadapan Sultan Shalahuddin, Beliau menghukum mati Rainald
de Chatillon yang telah begitu keji karena kekejamannya yang hebat yang ia
lakukan kepada orang-orang Islam dan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Kemudian Guy de Lusignan dilepaskan untuk pergi, karena ia tidak melakukan
kekejaman yang serupa. Kekalahan tentara Salib ini berdampak besar terhadap
kekuatan Tentara Islam.




