Sabtu, 14 April 2018

Jika Aku Menjadi

Namaku Atshushi Mitzusaka (Auli Mirza Fatahillah),aku merupakan tentara Jepang yang dipercayai oleh komandanku untuk menguasai Indonesia. Aku pun mengambil tugas tersebut dan aku juga telah mengetahui bahwasanya tugasku menguasai indonesia tidak lain adalah untuk menguasai wilayah, sumber daya alam serta sumber daya manusianya.

Karena aku tahu bahwasanya Indonesia terkenal dengan rempah-rempah, serta rakyatnya yang mudah sekali ditipu daya. Aku berpikir,sesampainya disana aku harus bersikap baik dan mengeluarkan kata-kata mutiara untuk mencitrakan diriku dan tentunya Negara Jepang.

Pada tanggal 11 januari 1942, aku berangkat dari base camp menuju Timur Pulau Kalimantan, tepatnya di Pulau Tarakan. Bersama dengan sekutu ku, aku berangkat menggunakan pesawat kargo. Sesampainya disana, sesuai yang sudah kupikirkan tadi,aku langsung bersikap baik kepada rakyat Indonesia.

Aku mengatakan bahwa Jepang datang ke Indonesia sebagai pemimpin asia, pelindung asia dan cahaya asia atau yang kita kenal dengan slogan dari Gerakan Tiga A. Orang-orang pun menyambutku dengan hangat dan senyum lebar. Mereka semua berharap bahwa Jepang dapat menyingkirkan Belanda dari Indonesia.

Setelah beberapa hari di Pulau Tarakan, aku pun menunggu Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada Jepang, barulah aku  memulai ekspedisi dan juga misiku. Dan benar saja pada tanggal 8 Maret 1942, Belanda telah mundur keluar Indonesia dan menyerahkan kekuasaannya kepada jendralku yaitu Hitoshi Immamura. Sekaligus memberikan lampu hijau untuk memulai misi ku ini.

Aku pun diberi perintah dari jendralku dan langsung sigap mengambil langkahku untuk menguasai Indonesia, diawali dari Pulau yang pertama kali ku injak yakni Pulau Tarakan, dilanjuti dengan Balikpapan,Palembang dan Plaju. Setelah 4 daerah tersebut, aku melanjutkan penjajahan ku ini ke Pulau Jawa. Tepatnya di Teluk Banten, daerah pantura, dan kota Pasuruan.

Walaupun aku melakukan perebutan wilayah, aku tetap menjalankan prinsipku yakni pencitraan. Selama aku diam-diam menjajah Indonesia, aku selalu melakukan pencitraan seperti mengijinkan mengibarkan bendera Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari dan memutar lagu Indonesia Raya. Sehingga dengan pencitraan-pencitraan tersebut aku dipandang baik oleh rakyat Indonesia, walaupun mereka tidak tahu bahwa aku sedang menjajah negara ini.

Dalam melakukan misiku ini,aku memulai penjajahan dengan hal-hal minim seperti menguasai wilayah terlebih dahulu, lalu aku mendirikan kantor-kantor Jepang dan sampai puncaknya yaitu penjajahan yang sesungguhnya. Dimulai dari kerja paksa, berperang melawan rakyat Indonesia, hingga penyiksaan-penyiksaan yang sangat pedih. Lama-kelamaan misiku ini pun berhasil. Sekutu ku pun sudah memiliki gudang pangan dan juga persenjataan sendiri,sehingga untuk menguasai suatu wilayah menjadi sangat-sangat mudah.

Hingga akhirnya tanah Indonesia takluk kepadaku dengan waktu yang sangat singkat. Citraku di hadapan rakyat pun berubah, dari yang awalnya citraku sangat-sangat baik di mata rakyat Indonesia menjadi 180 derajat berubah menjadi sangat-sangat buruk. Namun,aku tidak peduli tentang itu semua. Yang terpenting adalah misiku menjajah Indonesia telah tuntas. Aku berhasil mengambil semua kekayaan negaranya baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar